Anak: yang dirasakan, yang terjadi, sebagai yang diperjuangkan.
Ulasan tentang ombinus film pendek yang tayang di TVRI pada Kamis, 17 September 2020.
Menayangkan lima film pendek yakni "Bubar, Jalan!" "Say Hello to Yellow" "Boncengan" "Rena Asih" dan "Topo Pendem". Kelima film pendek ini memiliki benang merah tentang anak. Menceritakan mulai dari hal yang dirasakan anak, kejadian yang dialami anak, hingga pengorbanan orang tua untuk anak. Kejadian yang menimpa Ahong pada film Bubar, Jalan! Mampu membawa ingatan penonton kembali pada masa sekolah, bagaimana pemimpin upacara dianggap sebagai sebuah tugas enteng yang remeh, setiap kesalahan pemimpin menjadi makanan sedap bagi peserta upacara sebagai bahan untuk mengolok-olok pemimpin, namun nyatanya tidak semua orang mau dan mampu menjadi pemimpin upacara yang harus berdiri sendiri di depan, memimpin jalannya upacara, dan melawan rasa gugup yang bergejolak. Dalam filmnya, kita diajak untuk merasakan bagaimana seorang pemimpin upacara harus melawan itu semua, ditambah dengan ketegangan minor yang terjadi saat Ahong hampir lupa memberi instruksi untuk hormat ke bendera karena kakinya gemetar.
Lain halnya dalam film Say Hello to Yellow, kisah Risma si anak pindahan, sesuai yang tertera pada judul bahwa tokoh utama erat kaitannya dengan hal berbau kuning, anak perempuan ini memakai aksesoris serba kuning, termasuk case gawai dan kaos kaki sekolahnya. Ketika anak lain memakai kaos kaki putih sebagaimana aturan umum sekolah dasar di Indonesia, tokoh Risma seakan mendapat 'privilage' untuk mengenakan kaos kaki kuning dan tidak mendapat hukuman, ia juga tidak di sanksi karena membawa gawai ke sekolah. Adegan saat Risma menyusun buku agama di rak, mampu mewakili narasi dan informasi tanpa dialog pada penonton bahwa Risma adalah seorang penganut agama Buddha. Risma dan teman barunya memberi gambaran komparasi yang cukup kontras antara "anak kota" dan "anak desa", moral "toleran" sangat ditonjolkan dalam film ini, terlihat saat adegan berdoa sebelum pulang sekolah yang dipimpin 3 siswa dari agama berbeda, Katolik, Protestan, dan Islam, Tidak ada tujuan khusus pada ceritanya, hanya mengalir dengan menonjolkan komparasi pada hampir setiap adegan.
Komparasi juga tersirat pada film Boncengan, kasus lomba lari di sekolah yang nyatanya dilakukan dengan kecurangan, secara tersirat menonjolkan perbedaan antar anak dalam melakukan kecurangan. Hambatan klise juga terjadi dalam film ini, yakni salah satu tokoh memutar penunjuk arah agar tokoh lain tersesat. Cerita dalam film ini mirip dengan film pendek Subur itu Jujur (2018) karya Gelora Yudhaswara yang juga menceritakan tentang lomba lari anak SD dan segala kecurangannya.
Sedangkan pada dua film terakhir, mengisahkan usaha orang tua tunggal demi anak yang tentu dibungkus oleh kemiskinan dan derita. Hanya saja film Rena Asih menyisipkan musikal dalam penyampaian kisahnya, yang menambah warna cerah dalam derita yang dikisahkan dalam film. Tokoh ibu digambarkan menjadi seorang wanita yang dipaksa kuat untuk menanggung dua anaknya setelah kepergian suaminya, tujuan dan hambatan cerita sangat jelas, yakni Damar yang ingin membeli kaos tim sepakbola favoritnya, dengan motivasi yang tumbuh karena ia diejek oleh temannya saat ia hanya memiliki kaos biasa yang ditempel logo tim sepakbola. Damar terhalang oleh kondisinya dimana ibu harus membayar tagihan listrik, hutang dan bayaran sekolah Damar.
Lain halnya dengan Topo Pendem yang menyeret emosi penonton untuk terus merasakan drama yang disajikan, ceritanya cenderung pada kisah-kisah film neorealisme. Saya sempat dibuat lega saat menonton lantaran tokoh Anak yang sudah sembuh, namun ternyata si Anak tetap pada kondisinya, semua hal tentang kesembuhan si Anak hanya bayangan yang tumbuh dari harapan tokoh Bapak akan usahanya berdoa dan memohon syariat guna kesembuhan anaknya.


Comments
Post a Comment